Minggu, 14 Oktober 2012

SUPER SEVEN


Udah nggak asing lagi dong tentunya dengan anak-anak cowok berbakat ini mereka adalah SUPER SEVEN sesuai namanya mereka terdiri dari 7 anak laki-laki yang ganteng-ganteng dan berbakat yaitu Karel yang wajahnya kerap membintangi beberapa iklan TV, Jose dengan ciri khas mata sipit dan wajahnya yang ganteng keturunan chines, Bryant dengan ciri khas rambut berponi wajahnya sedikit korean, next Bagas yang juga jago main Drum sejak usia 8 tahun, kemudian ada Raza yang paling kecil kalau dilihat dari postur tubuhnya, Ajil badanya yang berisi menjadikan ia terlihat lucu dan menggemaskan, dan terakhir ada BD alias Brian Domani keturnan Jerman Banjarmasin ganteng dengan wajah Indo. Kehadiran Super7 di belantika music Indonesia sebagai boysband cilik mewarnai dunia permusikan Indonesia sejak tahun 2011 bisa dibilang usia mereka telah setahun lebih. Nama ke7 personil super7 pun semakin dikenal masyarakat Indonesia dan telah memiliki banyak fans yang di sebut Sevener’s termasuk saya sendiri. Nama Super7 pun semakin melejit dan populer terutama di kalangan anak-anak dan menjadi inspirasi anak-anak Indonesia bahkan mereka juga di nobatkan sebagai Duta Lingkungan oleh Kementrian Lingkungan Hidup RI di Jakarta Convention Centre pada 17 Juni 2012. Keren khan…
Single pertama Super7 adalah Sahabat “Best Friend Forever” di video clip lagu ini juga ada 7Icon karena kebetulan mereka masih satu manajemen. Tapi yang pasti keren bangetzz deh. Album pertama super7 juga seudah keluar dengan lagu2 keren lainnya.
Untuk anda yang ingin selalu update foto2 dan info2 terbaru super7 anda bisa gabung di facebook Super7. Banyak juga video dan foto2 mereka yang keren-keren. Super7 sering tampil di berbagai on air acara tv dan off air terutama pada sabtu minggu agar tidak mengganggu kegiatan sekolah para personil. Saya sebagai Sevener’s juga pastinya selalu support mereka, yang namanya ngefans, nggak salah khan…?!!!
By: Sevener’s Jambi




Selasa, 09 Oktober 2012

Cerpen: My Ustadz In Memorian


    “My Ustadz In Memorian”


BY:  Agus Sholihin Al-Abrar

             Aku Najam. Hari seperti biasanya aku dan Mahasantri lainnya berangkat kuliah sore. Seperti biasanya pula Ustadz Burhan selaku pengajar B. Inggris di kelas kami tak pernah telat untuk mengajar. Bahkan beliau datang tepat waktu ketimbang santrinya. Dan seperti biasanya pula ketika beliau menerangkan materi di depan kelas, tidak semua santri di kelasku yang kusyuk memperhatikan penjelasannya. Ada yang asik sms-sms-an tidak jelas, ada yang hanya coret-coret kertas entah apa yang di tulisnya. Bahkan ada yang tidur dengan pulasnya, mungkin yang di bayangkankannya pada saat itu sedang berada di kamarnya. Inilah salah satu kebiasaan yang tidak patut di tiru.
            Namun ustadz Burhan tak pernah menampakkan kemarahanya atas prilaku mahasantri-mahasantrinya ini. Termasuk diriku, ada keseriusan ketika belajar namun terkadang rasa kantuk selalu menggodaku, bagaikan seorang ibu yang mengayunkan anaknya untuk segera tidur.  Apalagi di suasana siang yang panas merayap, tak bisa di elak lagi kalau rasa kantuk itu menyergapku.  Dengan keadaan kelas yang seperti ini Ustadz Burhan tetap semangat mengajar, walau terkadang kelas tak memberikan respon semangat.  Sambil menulis materi yang di berikan, aku menepuk salah satu punggung teman di depanku yang terlihat manggut-manggutan alias ngantuk.
“ Sebaiknya anta cuci muka dulu, hilangkan ngantuk.” Kataku.
Sayang perkataanku tak di gubrisnya, ia menoleh ke arahku dengan mengernyitkan dahinya seraya menaikkan sebelah alis matanya.
            Seusai belajar entah kenapa rasa kantuk itu hilang seketika. Ustadz mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, rupanya sebuah camera digital.
“ Wahh…mau fhoto-fhoto ya ustadz?” tanyaku sambil memasukkan buku kedalam tas. Beliau hanya mengangguk senyum. Ya, kami di minta beliau untuk foto-foto bersama. Beliau bilang untuk kenang-kenangan saja. Tak ada hal yang berbeda tentu saja semua teman-teman kelasku lekas membentuk barisan siap untuk di foto. Tak heran kalau teman kelasku eksis foto layaknya model ternama. Dengan pede-nya aku ikut di barisan belakang. 1, 2,3, bahkan lebih dari dari 4 jepretan kami foto bersama. Ada hal yang menyenangkan sore itu kapan lagi kami bisa foto bareng ustadz sembari eksis dan menghilangkan ngantuk dan lelah setelah belajar.
            Malam hari…               
            Seperti malam-malam biasanya seusai sholat maghrib di masjid selalu ada  pengajian. Dan kebetulan malam ini giliran Ustadz Burhan yang mengisi pengajian. Semua Mahasantri dengan kusyuk mendengarkan walaupun ada sebagian yang tidak. Namun kami tetap kagum dengan Ustadz Burhan, dalam kondisi bagaimanapun beliau tetap semangat tuk mendidik kami. Seonggak senyuman selalu di hadiahkan kepada kami. Aku hanya diam mendengarkan pengajian, aku tak mau terlalu banyak berkata-kata.
            Malam berikutnya tiba-tiba kami mendengar kabar yang tidak baik. Ustadz Burhan di kabarkan sedang terbaring di rumah sakit karena tensi darahnya naik. Memang sebelumnya sempat terdengar kabar kalau beliau kondisi kesehatanya kurang baik, dan di ketahui tensi darahnya saat itu dalam nota bene stadium tinggi. Para medispun sempat menganjurkan kepadanya untuk banyak istirahat. Meski kondisi kesehatan yang tidak baik, tapi yang kami lihat beliau tampak sehat dan bugar tetap semangat tuk mengajar bahkan masih sempat tuk mengisi pengajian. Tak ada sedikitpun tanda-tanda kalau beliau sakit. Setelah mendengar kabar itu,  semua mahasantri mengisi malam itu dengan tahlilan mendo’akan akan kesembuhan ustadz kami.  Aku menjenguk ke rumah sakit, aku lihat Ustadz Burhan yang terbaring lemah di pembaringanya. Beberapa ustad lain dan pengurus asrama juga ada di sana. Kami hanya memanjatkan doa untuk kesembuhan beliau. Seiring doa bertabur kesedihan mengiringi. Bahkan beberapa Mahasantri tak dapat tidur dengan nyenyak, hanya doa yang di hadirkan malam itu.  Pukul 01.00 WIB dini hari di asrama, Erik salah satu temanku bangun dari tidurnya. Ridho yang melihatnya menyapa heran.
“ Anta tidak tidur?”
“ Ana tidak tahu,  seperti ada sesuatu yang membangunkan. Sejak tadi memang tidak bisa tidur.” Jawabnya.
“ Ya sudah, anta kembali tidur lagi. Bismillah saja…”
“ Ya, ana coba deh.”
            Malam dini hari di rumah sakit. Aku keluar sebentar cari air mineral.  Sekembalinya aku ke ruang dimana Ustadz Burhan di rawat, aku melihat orang-orang di ruangan sudah panik.  Aku semakin mendekat, air mineral yang kubawa jatuh dari genggamanku. Salah satu ustadz kami memegang lengan ustad Burhan yang dingin dan tak berdenyut lagi.  Ya Allah! apakah malaikat maut telah membawa pergi  ustad Burhan tanpa sepengetahuanku? Keluarga besar asrama pun berduka atas kepergian salah satu Ustadz tercinta.  Kini telah ku saksikan beliau yang telah pulang keharibaan Illahi. Malaikat maut dengan bangganya membawanya terbang ke langit. Semua yang menyaksikan mencucurkan air mata.  Aku terdiam mataku berkaca-kaca, lambat laun mengeluarkan air mata. Ya, air mata kesedihan aku tak sanggup menahanya.
            Pagi hari yang kelam, bendera kuning telah berkibar dalam kebisuan.  Angin sepoi pagi melangkah dalam penderitaan dan kedukaan.  Langitpun tampak mendung turut berduka atas kesedihannya. Roh beliau  mengucapkan selamat tinggal pada dunia, ia telah menghembuskan nafas terakhirnya, ia telah bebas dari belenggu sakitnya. Apakah kami patut menyalahkan maut, atas ketidakadilannya yang telah mengambil Seorang Ustadz, sahabat sekaligus guru bagi kami.
            Tapi inilah suratan takdir yang telah terukir.
            Mungkin kami tak dapat melihat beliau lagi, namun senyumnya, kesabaran, kebaikkan serta semangatnya senantiasa menjadi terladan bagi kami. Ustadz Burhan akan segera berkunjung ke Surga Firdaus.  Amiiin….
The end

NB: Cerpen ini tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun. Cerpen ini semata-mata hanya untuk hiburan semata. Hanya bermaksud untuk mengingat kenangan yang tak mungkin terlupakan.

Senin, 08 Oktober 2012

Cerpen: Ramadhan Kali Ini



“Ramadhan Kali Ini”

                                                                                     By: Agus Sholihin Al-Abrar
“ Diki!!!”
“ Bangun Flo, kamu mimpi lagi.”
Flora langsung memeluk Mamahnya, ia lagi-lagi bermimpi yang sama tentang Diki, suaminya yang baru meninggal 3 bulan yang lalu. Padahal mereka adalah pasangan yang terbilang muda. Baru 2 tahun pernikahannya dengan Diki Flora harus kehilangan sang suami karena kecelakaan mobil yang dikendarainya.
Isak tangis Flora kian menjadi saat sang suami hadir dalam mimpinya. Karena kasih sayang yang begitu besar sehingga Diki selalu membayangi kehidupan Flora.
Paginya, Flora berangkat ke kantor seperti biasanya, walau badannya tampak pucat ia bersikeras berangkat kerja. Mamahnya yang khawatir tidak tega dengan kondisi putrinya yang kian drop.
“ Flo, sebaiknya kamu istirahat saja dulu. Kamu sangat pucat sayang…” tutur mamah penuh perhatian.
“ Enggak apa-apa mah, Flo baik-baik aja kok, mamah nggak usah khawatir. Udah lama Flo nggak masuk kerja, Flo bosan dirumah.”
“ Ya udah, tapi kamu hati-hati ya, kalau ada apa-apa segera hubungi mamah.”
“ Ya, mah.”
Flora berangkat dengan mobil hitamnya. Dalam perjalanan memang kebetulan Flo mengendarai dalam keadaan kurang kosentrasi. Tanpa sepengetahuannnya, telah melintas hendak menyebrang seorang lelaki.
“ Tinnnnn!!!” Suara klakson memecah keheningan pagi.
Mobil Flora berhenti mendadak, untung saja tidak menabrak lelaki tersebut.
Flora kaget di buatnya, hampir saja ia menghilangkan nyawa seseorang. Sementara Lelaki itu langsung memburu mobil Flo.
“ Heh! Loe bisa nyetir nggak sih, mata loe dimana!” ia marah-marah menggedor-gedor jendela kaca mobol flo.
“ Sorry-sorry gue nggak se….e.” Flo berhenti berkata saat ia membuka jendela kaca mobilnya, lelaki yang di hadapannya memiliki rupa yang persis dengan wajah suaminya Diki. Flo kaget dan melongo.
“ Diki???”
“ Diki-diki, gue Idik, eh mba’ lain kali hati-hati kalau bawa mobil. Jangan melamun, bahaya! Ceroboh banget sih!” lelaki yang mengaku bernama Idik itu bicara kesal dan ketus pada Flo.
Sementara flo tidak percaya apa yang ia lihat sekarang. Benarkah dia Diki?
“ Iya maaf, aku nggak sengaja.”
Tanpa kata-kata laki-laki itu pergi begitu saja. Setelah sadar lelaki yang bernama Idik tersebut sudah pergi, Flo baru akan mengejarnya. Tapi sayang tidak keburu. Karena Diki sudah masuk angkot duluan.
Sejak hari itu Flora mendadak ceria, ia selalu semangat berangkat kerja, sambil berharap ia bisa bertemu kembali dengan Idik, yang wajahnya serupa dengan Diki, mendiang suaminya.
Namun sudah tiga hari setelah peristiwa itu, Flo tidak pernah bertemu dengan Idik lagi, di hari ketiga ini ia masih menunggu siapa tahu  bisa kembali bertemu dengan lelaki yang bernama Idik itu. Mungkin karena wajahnya yang mirip dengan Diki, inilah yang membuat Flo masih penasaran. Walaupun yang satu ini lebih terlihat sombong.
“ Apa aku bermimpi ya waktu itu bertemu dengan orang yang mirip mas Diki” ia mendesah sesal.
“ …aku kebanyakan menghayal, aku terlalu mengharapkan mas Diki, Flo ingat! Mas Diki udah tenang di sana!” ia meyakini dirinya sendiri, berusaha sadar akan kehilangan suaminya.
“ Aku harus sadar, aku nggak mau lama-lama bisa gila kalau terus-terusan seperti ini”
Ia kembali kedalam mobil, baru starter dibunyikan, tiba-tiba ia melihat sosok yang tidak asing lagi. Ya, lelaki itu. Itu yang kemarin. Segera Flo keluar dari mobil memburu Idik yang sedang menunggu angkot.
“ Diki…!!” pekiknya
Lelaki itu menoleh.” Loe lagi?”
“ Akhirnya…”
“ Akhirnya kenapa?”
“ Akhirnya aku bisa ketemu kamu lagi Diki.”
“ Nama ague Idik, bukan Diki”
“ Eh, iya maaf. Diki” Senang hati Flo bisa kembali bertemu, kebahagiaannya tidak tergambarkan saat itu.
“ Sebagai permintaan maaf, kamu mau ya sore ini buka puasa bareng aku.”
Idik masih bengong.
“… buka puasa sama loe?nggak bisa gue udah ada janji!”
“ Please, sekali seumur hidup” pintanya memelas
Idik masih tampak berfikir sejenak lalu berkata.” Ok”
Sore itu, mereka buka puasa bersama di salah satu rerstoran dekat rumah, segala makanan di pesan demi menyenangkan hati Idik.
“ Dik, makasih ya”
“ Untuk?”
“ Untuk kebersamaannya udah mau buka bareng”
“ Ya, biasa aja kali’.”
Hati kecil Flo berkata.” Siapapun kamu, Diki ataupun Idik, Aku tetap sayang kamu.”
Namun sejak saat itu, Flo tidak pernah bertemu lagi dengan Idik, seakan dia menghilang begitu saja di telan bumi. Entah kemana. Namun pertemuan itu sangat berarti bagi Flo di Ramadhan kali ini.